Jumat, Juni 13, 2008

Bupati Canangkan Jepara Cyber Country

JEPARA - Bupati Jepara Hendro Martojo mencanangkan Jepara Cyber Country untuk semua kecamatan se-Kabupaten Jepara. Pada tahap awal, April lalu telah tersedia hotspot area di Kecamatan Karimunjawa yang bisa diakses hingga radius 1 km.
"Pada tahun ini, 16 kecamatan akan dilayani hotspot area," ujar Bupati saat launching Jepara Cyber Country di Taman Baca kawasan Alun-alun Kota, Jumat (13/6).
Untuk hotspot area di kawasan alun-alun, bisa terjangkau di Keluarahan Saripan di timur hingga kawasan Perdagangan Diponegoro di barat dan Kauman sampai Pengkol (Rutan Jepara).
"Layanan ini bisa diakses gratis oleh masyarakat dengan user name pemdajepara dan password santel. Layanan serupa yang telah terpasang di area kantor Bapade dan pendapa kabupaten. Selanjutnya kawasan Stadion Gelora Bumi Kartini," papar Hendro.
Lebih lanjut dia mengemukakan, meskipun sedikit terlambat, layanan ini merupakan awal yang baik untuk dapat dimanfaatkan masyarakat, tidak saja dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan tetapi juga berimbas pada hubungan bisnis pengusaha di Jepara.

Akses Internet Lamban
Sebelumnya, Bupati mendapat keluhan dari para pengusaha asing karena kelambanan akses internet di Jepara.
"Pada 2006, kecepatan akses internet di Jepara baru 36-52 kilobyte per second (kbps). Untuk itu, saya meminta Telkom memberikan layanan akses internet dengan cepat," tuturnya.
Sementara itu, menurut Kepala Sub-Bagian TU dan Santel Bagian Umum Setda Jepara Setyanto, selain membuka layanan hotspot di beberapa titik, Pemkab juga telah membangun portal, yaitu www.jeparakab.go.id, www.gojepara.com, www.hendromartojo.info, www.inkomjepara.info, dan www.persijap.org. (J4-69)

Sumber info: Suara Merdeka, Sabtu, 14 Juni 2008

Jumat, Mei 23, 2008

Kembangkan Objek Wisata Tersembunyi




JEPARA- Objek-objek wisata yang tersembunyi selayaknya juga harus dikembangkan. Hal itu untuk memberikan lebih banyak referensi masyarakat pengunjung yang meminati dunia pariwisata di Bumi Kartini. Pengembangan objek wisata saat ini dinilai masih terkonsentrasi ke lokasi-lokasi mapan, seperti Pantai Kartini dan Bandengan. Padahal banyak sekali potensi yang belum tersentuh.
Demikian disampaikan pegiat Pusat Informasi Pariwisata (JIC) Jepara, Samsul Arifin, Jumat (23/5). ''Kalau potensi objek wisata yang tersembunyi ini dikembangkan, bisa memberikan banyak pilihan bagi calon pengunjung,'' katanya.

Potensi Dikembangkan
Objek-objek tersembunyi itu selain bisa dilihat di daratan Jepara, juga pantai di Karimunjawa. Desa-desa di lereng Gunung Muria potensial untuk dikembangkan. Desa Tempuir dan Damarwulan adalah dua di antaranya. Dua desa itu juga memiliki kekhasan minuman, berupa kopi yang diproduksi masyarakat setempat. Kopi dari dua desa ini memiliki kekhasan rasa, dan sedikit banyak bisa menjadi pelengkap kuliner dua desa yang dilalui Kali Gelis dengan segala panorama perbukitan dan keteduhan udara.
Di titik pantai, sebenarnya Pantai Bondo, Kecamatan Bangsri, juga tidak terlalu kalah menarik dengan Pantai Bandengan. Sama-sama berpasir putih, pantai ini telah lama dikunjungi masyarakat setempat. ''Jika dikembangkan lebih bagus, Pantai Bondo juga akan menjadi pilihan lain objek wisata pantai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sebelah utara,'' jelas dia yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi NU (Stienu) Jepara itu.
Dia juga menyoroti tentang Karimunjawa, kawasan wisata yang terkenal, namun belum banyak warga Jepara yang bisa sampai di sana. Jika sarana transportasi antarpulau di Karimunjawa menjadi kendala pengunjung untuk mengarunginya, maka perlu juga dibikin miniatur Karimunjawa di salah satu titik. Para pelajar atau elemen masyarakat lain yang ke Karimunjawa dan memiliki waktu luang singkat, cukup mengunjungi miniatur itu. ''Ini potensi yang belum dikembangkan dan akan sangat membantu,'' lanjutnya.
Pihaknya kini telah mengembangkan informasi tentang pariwisata, dengan mendirikan Radio Wisata Jepara di 88,8 FM. Sudah sebulan ini radio yang banyak memberikan porsi siaran tentang pariwisata Jepara itu mengudara, dengan konsep siaran 50 persen berbahasa Inggris, 30 persen Bahasa Indonesia, dan 20 persen berbahasa Jawa khas Jepara.(H15-79)

Kepsen foto:
Samsul Arifin, dosen STIENU Jepara

Sumber info: Suara Merdeka, Sabtu, 24 Mei 2008

Kamis, Mei 22, 2008

Jati Unggul Dikembangkan di Jepara



5 Tahun Diameter Capai 20 Cm

JEPARA- Bibit jati unggul akan dikembangkan di lahan produktif di Jepara. Bibit jati itu bisa dipanen dalam jangka lima tahun, atau jauh lebih cepat dari jati biasa. Jika itu bisa ditanam oleh masyarakat dan bekerja sama dengan pengusaha, maka dalam jangka tertentu bisa membantu kebutuhan daerah untuk industri olahan kayu.
Kesepahaman untuk menanam bibit jati kualitas unggul itu telah dilakukan di Jakarta, antara DPP Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia (Asmindo) di satu pihak dengan unit Usaha Bagi Hasil Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (UBH KPWN) dan Jati Unggul Nusantara di Jakarta baru-baru ini.
Di sela-sela kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) Asmindo Komisariat Daerah Jepara di Jepara Trade and Tourism Center (JTTC), Rabu (21/5), jati unggul itu diperkenalkan. Dua bibit diserahkan oleh Sulaiman Sumanegara dari KPWN kepada Asisten II Setda Sutedjo S Sumarto dan Ketua Asmindo Jepara Akhmad Fauzi.
''Kesepahaman dengan Asmindo pusat dan KPWN sudah dilakukan kemarin di Jakarta. Kami tinggal akan meneruskan di Jepara. Soal teknis kerjasama di daerah, masih dibicarakan,'' kata Akhmad Fauzi.
Pihaknya menyambut baik jika kerjasama ini bisa berjalan sesuai harapan. Bibit itu bisa ditanam di lahan-lahan produktif milik masyarakat. Isu bahan baku kayu mengemuka dalam musda bertema, Let's Start with Green Wood itu.
''Industri kayu ini kan pengguna kayu. Upaya penanaman jati unggul ini kami harapkan bisa terwujud,'' imbuhnya.

Tiga Kandidat
Dalam musda yang berakhir Rabu malam, Fauzi untuk kali kedua terpilih sebagai ketua. Dia akan menduduki posisi itu untuk periode 2008-2013. Dalam tahap pemilihan muncul tiga kandidat. Selain Fauzi, ada Sahli Rais dan Taufiqurrahman. Namun akhirnya Sahli mundur dan Taufiqurrahman, dianggap kurang memenuhi persyaratan. Akhirnya Fauzi terpilih secara aklamasi.
Terkait bibit jati unggul itu, Sulaiman Nusanegara mengemukakan, pada 2007 berhasil ditanam 57.000 pohon jati unggul di Magetan dengan melibatkan 385 petani di 19 desa. Di kabupaten itu ditarget pada 2011 tertanam 2 juta pohon jati unggulan. Dirut Usaha Bagi Hasil (UBH) KPWN Hariyono Soeroso menjelaskan, KPWN didirikan pada 1989 dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai di Departemen Kehutanan. Dalam perkembangannya meneliti 600 pohon jati terbaik dengan pohon tegak lurus di Jawa dan Sulawesi.
Dari jumlah itu, akhirnya diseleksi menjadi 100 pohon yang terbaik. hasil seleksi itu dikembangkan dengan sistem kultur jaringan, dan akhirnya terambil 69 koloni. Dari koloni itu dikembangkan menjadi 28.000 bibit yang ditanam di Tegal. Jumlah itu kemudian disaring lagi yang terbaik tinggal 240 pohon. Jumlah ini kemudian diambil pucuknya dan dalam sentuhan akarnya dibikin tunggang ke bawah. Satu pohon rata-rata memiliki enam akar tunggang ke bawah, sehingga dinilai lebih ''rakus'' terhadap sari-sari tanah dan bisa berdiri kokoh lurus dan dikenal dengan Jati Unggul Nusantara (JUN). Di Perhutani disebut dengan Jati Plus Perhutani. Dalam masa lima tahun bisa berdiameter 20 cm dan siap panen.(H15-79)

Kepsen foto:
BIBIT UNGGUL: Asisten II Setda Sutedji S Sumarto dan Ketua Asmindo Jepara Akhmad Fauzi (kiri) saat menerima bibit jati unggul di Gedung JTTC Jepara, Rabu (21/5).(79)
SM/Muhammadun Sanomae

Sumber info: Suara Merdeka, Jumat, 23 Mei 2008